Realis Minimalis Menjadi Trend Karya Pelukis Muda

22.11 / Diposting oleh LEE / komentar (0)

Kecenderungan penggayaan/style yang berubah-ubah dalam seni lukis Sumatera Barat dalam beberapa tahun terakhir terutama bagi kalangan pelukis muda adalah sebuah dinamika dalam berkesenian – terutama seni rupa – untuk mencari idiom-idiom baru kerja lukis-melukis. Lantas apa yang sedang mereka cari? Jati dirikah, eksistensi atau konsekwensi pelukis ditengah derasnya persoalan global berkesenian. Inilah yang ingin kita cari tahu.
klik read more untuk selengkapnya

Kecenderungan penggayaan/style yang berubah-ubah dalam seni lukis Sumatera Barat dalam beberapa tahun terakhir terutama bagi kalangan pelukis muda adalah sebuah dinamika dalam berkesenian – terutama seni rupa – untuk mencari idiom-idiom baru kerja lukis-melukis. Lantas apa yang sedang mereka cari? Jati dirikah, eksistensi atau konsekwensi pelukis ditengah derasnya persoalan global berkesenian. Inilah yang ingin kita cari tahu.
Dalam pameran lukis Pekan Budaya Sumatera Barat 2008 yang baru saja usai digelar mayoritas lukisan anak-anak muda berkiblat pada kecenderungan penggayaan/style realis minimalis sebagai trend. Dicari rujukannya realisme berarti melukiskan sesuatu yang bersifat nyata dari keadaan yang seperti apa adanya, atau lebih bersifat kerakyatan, dimana rakyat biasa pada waktu-waktu terdahulu tidak pernah menjadi objek lukisan seniman. Obyek itu kini dibuat sesederhana mungkin bahkan minimalis seperti mayoritas karya yang dipajang.
Hal yang menarik pula dari berbagai literatur menyebutkan realisme sebenarnya merupakan reaksi dari adanya kecenderungan penggayaan/style romantisme yang dalam menggambarkan sesuatu digambarkan secara berlebih-lebihan kemudian menggambarkan peristiwa dan kegiatannya dikemas lebih sederhana mungkin baik obyek, warna, bidang, ruang dan aspek-aspek lain diluar persoalan teknis seperti masalah kejiwaan yang menjadi esensi penting dalam seni lukis tak terkecuali seni lukis moderen dan kontemporer sekalipun.
Dikaitkan dengan apa yang kita saksikan, kita amati bahkan kita hayati secara hakiki pada mayoritas lukisan pelukis muda di arena Pekan Budaya Sumatera Barat 2008 kemarin, persoalan yang ingin dikemukakan dalam kerja lukis-melukis tentulah tidak sebatas kecenderungan penggayaan/style yang digeluti dalam kanvas dengan komposisi warna, ruang dan bidang serta obyek yang ada dibuat secara apik dan enak dipandang mata. Diluar persoalan estetika, masalah tema maupun konsep karya yang menjadi sangat penting ternyata ikut terabaikan.
Dinamika kecenderungan penggayaan/style seperti ini yang kini merambah dunia seni lukis Sumatera Barat, saya pun menjadi teringat apa yang pernah terjadi di Jakarta hampir 14 tahun silam setelah booming seni lukis melanda tanah air soal penggayaan/style kerja lukis melukis yang orientasinya kebih berkiblat pada kebutuhan pasar/konsumen dan galeri untuk menjadikan lukis sebagai komoditi bernilai tinggi.
Dalam harian pagi Kompas, 21 Oktober 1994 menyebutkan adanya kecenderungan yang terjadi selama ini, jika merujuk pada “Dekoratif Utara, Surealisme Selatan” maka penggayaan/style pelukis tergantung pada tingkat kebutuhan konsumen, hal ini dimaksudkan penggayaan dekoratif condong dipakai oleh pelukis di daerah utara dikarenakan tingkat kebutuhan konsumen akan gaya/style tersebut cukup tinggi, sementara di daerah selatan penggayaan surealisme banyak dianut oleh pelukis dikarenakan juga karena masyarakat yang mencintai seni lukis sangat selektif dan lebih condong pada aliran surealis ini. Namun hal ini bukan berarti merendahkan salah satu penggayaan/style yang dianut oleh pelukis, tetapi ditentukan karena tingkat kebutuhan masyarakat akan seni lukis itu sendiri.
Bahkan yang mencengangkan dari penjualan lukisan tersebut adalah “adanya konsumen yang membeli lukisan dikarenakan gengsi ibu-ibu rumah tangga yang kurang kerjaan ramai-ramai bergiat keseni lukis”. Padahal tidak semua konsumen memahami apa dan bagaimana penggayaan/style yang dianut pelukis atau lukisan yang mereka koleksi.
Pertanyaan sekarang apakah penggayaan/style realis minimalis yang mewarnai mayoritas karya pelukis muda pada pameran Pekan Budaya Sumatera Barat 2008 itu sengaja membidik konsumen atau galeri yang kini mulai bermunculan atau sebagai bentuk bungkusan betapa sulitnya menentukan tema maupun konsep yang menjadi persoalan hakiki dalam seni lukis seperti rata-rata kita saksikan pada karya pelukis muda yang tumbuh bak cendawan di Sumatera Barat?

Read More......

Sejarah umum seni lukis

21.45 / Diposting oleh LEE / komentar (0)

wat yang aholic banget sama seni
klik read more untuk sejarah seni

Zaman prasejarah

Secara historis, seni lukis sangat terkait dengan gambar. Peninggalan-peninggalan prasejarah memperlihatkan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, nenek moyang manusia telah mulai membuat gambar pada dinding-dinding gua untuk mencitrakan bagian-bagian penting dari kehidupan mereka.

Semua kebudayaan di dunia mengenal seni lukis. Ini disebabkan karena lukisan atau gambar sangat mudah dibuat. Sebuah lukisan atau gambar bisa dibuat hanya dengan menggunakan materi yang sederhana seperti arang, kapur, atau bahan lainnya. Salah satu teknik terkenal gambar prasejarah yang dilakukan orang-orang gua adalah dengan menempelkan tangan di dinding gua, lalu menyemburnya dengan kunyahan daun-daunan atau batu mineral berwarna.

Hasilnya adalah jiplakan tangan berwana-warni di dinding-dinding gua yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Kemudahan ini memungkinkan gambar (dan selanjutnya lukisan) untuk berkembang lebih cepat daripada cabang seni rupa lain seperti seni patung dan seni keramik.

Seperti gambar, lukisan kebanyakan dibuat di atas bidang datar seperti dinding, lantai, kertas, atau kanvas. Dalam pendidikan seni rupa modern di Indonesia, sifat ini disebut juga dengan dwi-matra (dua dimensi, dimensi datar). Seiring dengan perkembangan peradaban, nenek moyang manusia semakin mahir membuat bentuk dan menyusunnya dalam gambar, maka secara otomatis karya-karya mereka mulai membentuk semacam komposisi rupa dan narasi (kisah/cerita) dalam karya-karyanya.

Objek yang sering muncul dalam karya-karya purbakala adalah manusia, binatang, dan obyek-obyek alam lain seperti pohon, bukit, gunung, sungai, dan laut. Bentuk dari obyek yang digambar tidak selalu serupa dengan aslinya. Ini disebut citra dan itu sangat dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis terhadap obyeknya. Misalnya, gambar seekor banteng dibuat dengan proporsi tanduk yang luar biasa besar dibandingkan dengan ukuran tanduk asli. Pencitraan ini dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis yang menganggap tanduk adalah bagian paling mengesankan dari seekor banteng. Karena itu, citra mengenai satu macam obyek menjadi berbeda-beda tergantung dari pemahaman budaya masyarakat di daerahnya. Pencitraan ini menjadi sangat penting karena juga dipengaruhi oleh imajinasi. Dalam perkembangan seni lukis, imajinasi memegang peranan penting hingga kini.

Pada mulanya, perkembangan seni lukis sangat terkait dengan perkembangan peradaban manusia. Sistem bahasa, cara bertahan hidup (memulung, berburu dan memasang perangkap, bercocok-tanam), dan kepercayaan (sebagai cikal bakal agama) adalah hal-hal yang mempengaruhi perkembangan seni lukis. Pengaruh ini terlihat dalam jenis obyek, pencitraan dan narasi di dalamnya. Pada masa-masa ini, seni lukis memiliki kegunaan khusus, misalnya sebagai media pencatat (dalam bentuk rupa) untuk diulangkisahkan. Saat-saat senggang pada masa prasejarah salah satunya diisi dengan menggambar dan melukis. Cara komunikasi dengan menggunakan gambar pada akhirnya merangsang pembentukan sistem tulisan karena huruf sebenarnya berasal dari simbol-simbol gambar yang kemudian disederhanakan dan dibakukan.

Pada satu titik, ada orang-orang tertentu dalam satu kelompok masyarakat prasejarah yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggambar daripada mencari makanan. Mereka mulai mahir membuat gambar dan mulai menemukan bahwa bentuk dan susunan rupa tertentu, bila diatur sedemikian rupa, akan nampak lebih menarik untuk dilihat daripada biasanya. Mereka mulai menemukan semacam cita-rasa keindahan dalam kegiatannya dan terus melakukan hal itu sehingga mereka menjadi semakin ahli. Mereka adalah seniman-seniman yang pertama di muka bumi dan pada saat itulah kegiatan menggambar dan melukis mulai condong menjadi kegiatan seni.

[sunting] Seni lukis zaman klasik

Seni lukis zaman klasik kebanyakan dimaksudkan untuk tujuan:

* Mistisme (sebagai akibat belum berkembangnya agama)
* Propaganda (sebagai contoh grafiti di reruntuhan kota Pompeii),

Di zaman ini lukisan dimaksudkan untuk meniru semirip mungkin bentuk-bentuk yang ada di alam. Hal ini sebagai akibat berkembangnya ilmu pengetahuan dan dimulainya kesadaran bahwa seni lukis mampu berkomunikasi lebih baik daripada kata-kata dalam banyak hal. Selain itu, kemampuan manusia untuk menetap secara sempurna telah memberikan kesadaran pentingnya keindahan di dalam perkembangan peradaban.

[sunting] Seni lukis zaman pertengahan

Sebagai akibat terlalu kuatnya pengaruh agama di zaman pertengahan, seni lukis mengalami penjauhan dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sihir yang bisa menjauhkan manusia dari pengabdian kepada Tuhan. Akibatnya, seni lukis pun tidak lagi bisa sejalan dengan realitas.

Kebanyakan lukisan di zaman ini lebih berupa simbolisme, bukan realisme. Sehingga sulit sekali untuk menemukan lukisan yang bisa dikategorikan "bagus".

Lukisan pada masa ini digunakan untuk alat propaganda dan religi. Beberapa agama yang melarang penggambaran hewan dan manusia mendorong perkembangan abstrakisme (pemisahan unsur bentuk yang "benar" dari benda).

Namun sebagai akibat pemisahan ilmu pengetahuan dari kebudayaan manusia, perkembangan seni pada masa ini mengalami perlambatan hingga dimulainya masa renaissance.

[sunting] Seni lukis zaman Renaissance

Berawal dari kota Firenze. Setelah kekalahan dari Turki, banyak sekali ahli sains dan kebudayaan (termasuk pelukis) yang menyingkir dari Bizantium menuju daerah semenanjung Italia sekarang.

Dukungan dari keluarga deMedici yang menguasai kota Firenze terhadap ilmu pengetahuan modern dan seni membuat sinergi keduanya menghasilkan banyak sumbangan terhadap kebudayaan baru Eropa.

Seni Rupa menemukan jiwa barunya dalam kelahiran kembali seni zaman klasik. Sains di kota ini tidak lagi dianggap sihir, namun sebagai alat baru untuk merebut kembali kekuasaan yang dirampas oleh Turki.

Pada akhirnya, pengaruh seni di kota Firenze menyebar ke seluruh Eropa hingga Eropa Timur.

Tokoh yang banyak dikenal dari masa ini adalah:

* Tomassi
* Donatello
* Leonardo da Vinci
* Michaelangelo
* Raphael

[sunting] Art Nouveau

Revolusi Industri di Inggris telah menyebabkan mekanisasi di dalam banyak hal. Barang-barang dibuat dengan sistem produksi massal dengan ketelitian tinggi. Sebagai dampaknya, keahlian tangan seorang seniman tidak lagi begitu dihargai karena telah digantikan kehalusan buatan mesin.

Sebagai jawabannya, seniman beralih ke bentuk-bentuk yang tidak mungkin dicapai oleh produksi massal (atau jika bisa, akan biaya pembuatannya menjadi sangat mahal). Lukisan, karya-karya seni rupa, dan kriya diarahkan kepada kurva-kurva halus yang kebanyakan terinspirasi dari keindahan garis-garis tumbuhan di alam.

[sunting] Sejarah seni lukis di Indonesia

Seni lukis modern Indonesia dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda di Indonesia. Kecenderungan seni rupa Eropa Barat pada zaman itu ke aliran romantisme membuat banyak pelukis Indonesia ikut mengembangkan aliran ini. Awalnya pelukis Indonesia lebih sebagai penonton atau asisten, sebab pendidikan kesenian merupakan hal mewah yang sulit dicapai penduduk pribumi. Selain karena harga alat lukis modern yang sulit dicapai penduduk biasa.

Raden Saleh Syarif Bustaman adalah salah seorang asisten yang cukup beruntung bisa mempelajari melukis gaya Eropa yang dipraktekkan pelukis Belanda.

Raden Saleh kemudian melanjutkan belajar melukis ke Belanda, sehingga berhasil menjadi seorang pelukis Indonesia yang disegani dan menjadi pelukis istana di beberapa negera Eropa.

Namun seni lukis Indonesia tidak melalui perkembangan yang sama seperti zaman renaisans Eropa, sehingga perkembangannya pun tidak melalui tahapan yang sama.

Era revolusi di Indonesia membuat banyak pelukis Indonesia beralih dari tema-tema romantisme menjadi cenderung ke arah "kerakyatan". Objek yang berhubungan dengan keindahan alam Indonesia dianggap sebagai tema yang mengkhianati bangsa, sebab dianggap menjilat kepada kaum kapitalis yang menjadi musuh ideologi komunisme yang populer pada masa itu. Para pelukis kemudian beralih kepada potret nyata kehidupan masyarakat kelas bawah dan perjuangan menghadapi penjajah.

Selain itu, alat lukis seperti cat dan kanvas yang semakin sulit didapat membuat lukisan Indonesia cenderung ke bentuk-bentuk yang lebih sederhana, sehingga melahirkan abstraksi.

Gerakan Manifesto Kebudayaan yang bertujuan untuk melawan pemaksaan ideologi komunisme membuat pelukis pada masa 1950an lebih memilih membebaskan karya seni mereka dari kepentingan politik tertentu, sehingga era ekspresionisme dimulai. Lukisan tidak lagi dianggap sebagai penyampai pesan dan alat propaganda, namun lebih sebagai sarana ekspresi pembuatnya. Keyakinan tersebut masih dipegang hingga saat ini.

Perjalanan seni lukis kita sejak perintisan R. Saleh sampai awal abad XXI ini, terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan konsepsi.

Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran keberhasilan sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme yang membuahkan seni alternatif atau seni kontemporer, dengan munculnya seni konsep (conceptual art): “Installation Art”, dan “Performance Art”, yang pernah menjamur di pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Kemudian muncul berbagai alternatif semacam “kolaborasi” sebagai mode 1996/1997. Bersama itu pula seni lukis konvensional dengan berbagai gaya menghiasi galeri-galeri, yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat, tetapi merupakan bisnis alternatif investasi.[rujukan?]

[sunting] Aliran seni lukis

[sunting] Surrealisme

Lukisan dengan aliran ini kebanyakan menyerupai bentuk-bentuk yang sering ditemui di dalam mimpi. Pelukis berusaha untuk mengabaikan bentuk secara keseluruhan kemudian mengolah setiap bagian tertentu dari objek untuk menghasilkan sensasi tertentu yang bisa dirasakan manusia tanpa harus mengerti bentuk aslinya.

[sunting] Kubisme

Adalah aliran yang cenderung melakukan usaha abstraksi terhadap objek ke dalam bentuk-bentuk geometri untuk mendapatkan sensasi tertentu. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Pablo Picasso.

[sunting] Romantisme

Merupakan aliran tertua di dalam sejarah seni lukis modern Indonesia. Lukisan dengan aliran ini berusaha membangkitkan kenangan romantis dan keindahan di setiap objeknya. Pemandangan alam adalah objek yang sering diambil sebagai latar belakang lukisan.

Romantisme dirintis oleh pelukis-pelukis pada zaman penjajahan Belanda dan ditularkan kepada pelukis pribumi untuk tujuan koleksi dan galeri di zaman kolonial. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Raden Saleh.

[sunting] Aliran lain

* Ekspresionisme
* Impresionisme
* Fauvisme
* Neo-Impresionisme
* Realisme
* Naturalisme
* De Stijl

[sunting] Abstraksi

Adalah usaha untuk mengesampingkan unsur bentuk dari lukisan. Teknik abstraksi yang berkembang pesat seiring merebaknya seni kontemporer saat ini berarti tindakan menghindari peniruan objek secara mentah. Unsur yang dianggap mampu memberikan sensasi keberadaan objek diperkuat untuk menggantikan unsur bentuk yang dikurangi porsinya.

[sunting] Pelukis Indonesia

* Affandi
* Agus Djaya
* Barli Sasmitawinata
* Basuki Abdullah
* Djoko Pekik
* Dullah
* Hendra Gunawan
* Herry Dim
* Jeihan
* Kartika Affandi
* Lee Man Fong
* Otto Djaya
* Popo Iskandar
* Raden Saleh
* S. Sudjojono
* Srihadi
* Sri Warso Wahono
* Trubus


Read More......

Video Favorit